Pengertia Hutan Rawa Beserta Ciri, Jenis, Manfaat Dan Persebarannya

Sebagai negara tropis yang kaya akan kekayaan alam, Indonesia memiliki berbagai jenis hutan. Salah satunya adalah hutan rawa, atau dalam bahasa Inggris disebut dengan istilah swamp forest. Seperti apakah hutan tersebut? Dan tersebar di wilayah mana sajakah hutan ini? Yuk cari tahu di sini!

Apa itu Hutan Rawa?

Apa itu Hutan Rawa

Hutan hujan tropis, hutan sabana, hutan bakau, dan hutan musim merupakan hutan yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia. Namun, sebagian orang mungkin jarang mendengar tentang hutan rawa.

Jenis hutan ini memiliki keadaan yang khas karena berkembang di area yang tergenang air. Jadi, hutan rawa merupakan hutan yang tumbuh di area yang tanahnya tergenang oleh air. Genangan air ini dapat terjadi secara musiman atau bahkan permanen.

Letak hutan ini biasanya berada di pinggir sungai besar atau di belakang hutan mangrove. Genangan air di hutan tersebut biasanya akan berada pada level tertinggi pada musim hujan atau saat laut sedang pasang. Sedangkan pada musim kemarau atau laut surut, tanah di hutan ini akan tetap basah namun genangan airnya tidak sama seperti pada saat musim hujan atau pasang.

Ciri-Cirinya

Hutan ini dikatakan sebagai swamp forest karena memiliki ciri-ciri khusus. Adapun ciri-ciri khusu dari hutan jenis ini adalah sebagai berikut:

1. Tanahnya Becek atau Selalu Digenangi Air

Tanahnya Becek atau Selalu Digenangi Air

Tanah di hutan ini memiliki ciri becek atau selalu digenangi air. Karena selalu tergenang air, maka tumbuhan dan pepohonan yang ada di hutan tersebut nampak seperti tumbuh di sebuah kolam. Air yang menggenangi hutan ini dapat berasal dari sungai, laut, dan air hujan. Selain itu, letak hutan ini juga cenderung lebih rendah dari tanah di sekitarnya.

2. Jenis Tanah

Jenis Tanah

Ciri khas lain dari hutan ini adalah memiliki jenis tanah aluvial atau endapan. Tanah tersebut berasal dari lumpur yang terbawa oleh aliran air sungai atau banjir. Karena hutan ini letaknya lebih rendah, maka lumpur tersebut lama-kelamaan akan mengendap.

Di samping itu,  tanah tersebut juga memiliki aerasi yang buruk. Hal ini berarti bahwa tanah ini tidak gembur karena tidak terdapat udara di antara partikel tanah. Selain itu, drainase tanah ini juga buruk. Oleh karena itu, air selalu menggenanginya.

3. Memiliki Tumbuhan Rawa

Memiliki Tumbuhan Rawa

Karena keadaan lingkungan yang khas di hutan ini, maka tidak semua tanaman dapat tumbuh di lingkungan tersebut. Hanya tumbuhan rawa yang dapat tumbuh di hutan ini.

4. Tanaman Memiliki Sistem Akar yang Khas

Tanaman Memiliki Sistem Akar yang Khas

Salah satu hal yang membuat tanaman rawa dapat hidup dengan baik di lingkungan tersebut adalah sistem akarnya yang khas. Akar ini biasa disebut sebagai akar napas yang berfungsi untuk memperoleh oksigen. Sehingga, akar tumbuhan tersebut sebagian ada yang terlihat di atas permukaan tanah atau permukaan genangan rawa.

Salah satu sistem akar napas yang paling dikenal adalah akar tunjang. Akar ini nampak bercabang-cabang dan tumbuh keluar dari batang tumbuhan rawa. Selain itu, beberapa tumbuhan memiliki akar lutut. Akar ini tumbuh dari dalam tanah mengarah ke atas dan berbelok ke bawah lagi sehingga bentuknya seperti lutut yang ditekuk.

5. Ditumbuhi Pepohonan Tinggi

Ditumbuhi Pepohonan Tinggi

Meski tumbuh di area yang tergenang air, tumbuhan rawa dapat tumbuh tinggi. Sehingga, jangan heran jika Anda melihat hutan ini ditumbuhi oleh pepohonan yang menjulang tinggi. Pohon tertentu bahkan dapat tumbuh hingga 40 m tingginya.

6. Selalu Hijau

Selalu Hijau

Karena air di hutan ini tidak pernah benar-benar mengering, maka tumbuhan rawa selalu memperoleh pasokan air yang cukup untuk hidup. Sehingga, mereka akan tetap hijau meski saat musim kemarau.

7. Terdapat Lapisan Gambut di Lantai Hutan

Terdapat Lapisan Gambut di Lantai Hutan

Ciri khas lain dari hutan tersebut adalah adanya lapisan tanah gambut. Lapisan tanah ini terbentuk karena adanya pembusukan tanaman dan hewan mati yang tidak sempurna. Tanah gambut mengandung material organik yang tinggi.

8. Airnya Asam dan Berwarna

Airnya Asam dan Berwarna

Air yang menggenang di hutan ini bersifat asam atau kadar pH-nya rendah. Selain itu, warna air tersebut juga kemerahan atau kehitaman. Kedua hal tersebut disebabkan oleh sisa pembusukan makhluk hidup yang telah mati.

Vegetasi Hutan Rawa

Seperti yang telah disebutkan di atas, hutan rawa memiliki vegetasi atau tanaman khusus. Tanaman tersebut ada yang berupa pohon, semak, dan perdu. Beberapa spesies tanaman yang dapat tumbuh di hutan ini adalah:

1. Eucalyptus deglupta

Eucalyptus deglupta

Orang awam mengenal pohon ini dengan sebutan pohon pelangi. Alasannya, kulit batang pohon ini berwarna hijau dengan semburat merah, oranye, dan biru. Pohon yang dapat tumbuh mencapai 60 m ini adalah tanaman asli Sulawesi dan Mindanao.

Pohon pelangi dapat beradaptasi pada daerah rawa dengan baik. Keunikan lain dari pohon ini adalah kemampuannya untuk bertunas meski tempatnya hidup mengalami kebakaran hutan. Kayu Eucalyptus deglupta dapat dimanfaatkan untuk membuat korek api. Sedangkan daun serta kulit kayunya dapat disuling menjadi minyak atsiri.

2. Eugenia spp

Eugenia spp

Tanaman lain yang dapat hidup di hutan ini adalah eugenia. Ada berbagai jenis eugenia yang dapat ditemukan di Indonesia. Tanaman ini dapat tumbuh tinggi hingga 6 m.

3. Garcinia spp

Garcinia spp

Salah satu tanaman dari genus ini yang dapat hidup di rawa berhutan adalah mundar. Buah dari tanaman ini seperti manggis namun berwarna merah. Selain itu, spesies lain yang sering ditemui di hutan yang tergenang air ini adalah manggis bakau.

4. Palaquium leiocarpus

Palaquium leiocarpus

Pohon yang disebut juga dengan pohon jongkang ini dapat ditemukan di hutan berawa. Jongkang dapat tumbuh antara 30 m dan 45 m. Kayu dari pohon biasanya digunakan untuk membuat papan lantai, kayu lapis, dan kusen. Sayangnya, pohon ini telah digolongkan sebagai tanaman langka.

5. Canarium vulgare

Canarium vulgare

Pohon canarium vulgare banyak ditemukan di Indonesia bagian timur. Tanaman ini dapat tumbuh beradaptasi di berbagai lingkungan. Salah satunya di wilayah rawa-rawa. Canarium vulgare akan beradaptasi di lingkungan tersebut dengan cara menghasilkan akar napas. Jika telah cukup umur, pohon ini akan menghasilkan kacang kenari.

6. Shorea uliginosa

Shorea uliginosa

Meranti bakau atau shorea uliginosa adalah pohon yang memiliki nilai ekonomis menjanjikan. Pohon ini dapat menghasilkan etanol dalam jumlah cukup besar. Etanol tersebut sangat bermanfaat untuk membuat energi alternatif. Sayangnya, meranti bakau ini sudah diklasifikasikan sebagai tanaman langka.

7. Campnosperma sp

Campnosperma sp

Pohon dari genus campnosperma dapat tumbuh dengan sangat baik di daerah rawa-rawa. Sebagian masyarakat Indonesia mengenal tanaman ini dengan sebutan terentang. Kayu dari pohon terentang dapat dimanfaatkan untuk membuat kertas, peti mati, peti pengepak barang, dan benda ringan lainnya karena tidak tahan lama.

8. Koompassia excelsa

Koompassia-excelsa

Oleh masyarakat, koompassia excelsa disebut pohon tapang, pohon raja, atau pohon tualang. Pohon tersebut dapat tumbuh selama ratusan tahun dan tingginya mencapai 80 m. Cabang-cabang pohon ini biasanya digunakan oleh lebah untuk menggantungkan sarangnya. Kayu pohon tapang dapat digunakan untuk membangun rumah dan membuat kerajinan.

9. Nypa fruticans

Nypa fruticans

Pohon yang umum disebut nipah atau buyuk ini banyak dijumpai di rawa-rawa, terutama yang letaknya di dekat pantai. Tanaman ini tergolong sebagai pohon palem. Nypa fruticans dapat tumbuh hingga 9 m.

Hampir semua bagian dari pohon ini dapat dimanfaatkan. Buahnya yang masih muda mengandung air nira yang dapat diolah menjadi gula dan cuka. Daunnya dapat digunakan sebagai atap. Sedangkan lidinya digunakan untuk membuat sapu lidi dan batangnya untuk kayu bakar.

10. Ramin

ramin

Gonystylus bancanus adalah salah satu pohon yang dapat hidup di area rawa-rawa. Pohon yang dikenal dengan nama ramin ini dapat tumbuh hingga 45 m. Kayu dari pohon ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan sering diekspor ke luar negeri.

Oleh karenanya, masyarakat mengeksploitasi kayu ini secara besar-besaran tanpa melakukan usaha pembudidayaan. Habitat aslinya yang berupa rawa gambut juga membuat pohon ini agak sulit dibudidayakan. Sehingga, pohon ini kini tergolong sebagai tanaman langka.

Selain tumbuh-tumbuhan di atas, masih banyak tanaman rawa yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat, misalnya longkida dan jelutung. Selain dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, tumbuhan tersebut juga sangat dibutuhkan untuk restorasi hutan rawa.

Jenis Hutan Rawa

1. Hutan Rawa Air Tawar

Hutan Rawa Air Tawar

Pada umumnya, jenis hutan berawa ini terletak di antara dua sungai di pedalaman sebuah pulau. Seperti namanya, hutan ini digenangi oleh air tawar yang berasal dari hujan maupun kedua sungai tersebut. Air ini bersifat asam dan tanahnya berjenis aluvial serta mengandung terlalu banyak bahan organik.

Tanaman yang tumbuh di hutan ini cukup bervariasi, misalnya pandan, meranti, dan Mangifera gedebe (semacam mangga). Selain itu, pohon sagu juga dapat tumbuh di hutan ini. Tanaman-tanaman di hutan ini biasanya tumbuh cukup lebat.

2. Hutan Rawa Gambut

Hutan Rawa Gambut

Salah satu hal yang membedakan hutan ini dengan jenis hutan sebelumnya adalah tanahnya. Tanah di hutan ini berupa lapisan gambut yang mengandung bahan organik tinggi dari makhluk hidup yang membusuk dengan tidak sempurna.

Selain itu, air yang menggenangi hutan ini memiliki salinitas yang lebih tinggi daripada air tawar. Penyebab asinnya air tersebut adalah letak hutan yang berada di dekat pesisir pantai, terutama di balik hutan bakau.

Tanaman-tanaman yang ada di hutan ini tidak terlalu bervariasi dan kerapatannya rendah. Beberapa contoh tanaman yang ada di hutan tersebut adalah meranti rawa, punak, ramin, jelutung rawa, dan bungur.

3. Rawa Tanpa Hutan

Rawa Tanpa Hutan

Seperti namanya, area ini berupa rawa atau lahan tergenang air namun tidak ditumbuhi oleh pepohonan. Rawa tanpa hutan merupakan bagian dari ekosistem rawa. Area ini biasanya hanya ditumbuhi oleh tumbuhan air berukuran kecil, misalnya semak dan rumput air.

Salah satu alasan mengapa tumbuhan besar atau pohon tidak dapat tumbuh di area tersebut adalah karena minimnya zat hara. Hal ini karena lapisan gambut di rawa tersebut sangat tebal.

Selain ketiga jenis hutan di atas, rawa hutan tersebut juga dikelompokkan berdasarkan aktivitas yang terjadi di dalamnya. Aktivitas ini erat kaitannya dengan penebangan hutan dan diamati dengan metode penginderaan jauh.

1. Hutan Rawa Primer

Hutan Rawa Primer

Hutan yang tergolong pada kategori ini adalah hutan yang belum mengalami penebangan. Sehingga, area hutan gambut atau rawa tersebut masih nampak alami dan hijau.

2. Hutan Rawa Sekunder

Hutan Rawa Sekunder

Aktivitas di hutan ini jelas terlihat. Penebangan pohon tersebut dilakukan dalam skala besar maupun kecil. Area yang pepohonannya sudah ditebang semua dan rawanya sudah menjadi kering tidak dapat dikatakan lagi sebagai hutan. Area ini disebut lahan terbuka.

Area yang pepohonannya sudah ditebang semua, namun masih tergenang air juga tidak bisa dikategorikan sebagai hutan. Area ini kemudian disebut rawa. Jika keadaan rawa ini masih baik, maka usaha restorasi dapat dilakukan.

Manfaat Hutan Rawa

Sekilas, hutan ini memang terkesan tidak subur. Meski demikian, hal ini bukan berarti bahwa rawa hutan tidak memberi manfaat bagi bumi dan manusia.

1. Sumber Energi

Sumber Energi

Lapisan gambut yang ada di hutan ini dapat dijadikan sebagai sumber energi karena kaya akan bahan organik. Tanah gambut ditambang dari rawa lalu diolah dengan cara dipress untuk mengeluarkan airnya. Setelah itu, tanah tersebut dikeringkan sehingga menghasilkan briket. Briket tersebut dapat digunakan untuk bahan bakar dan, bahkan, tenaga pembangkit listrik.

2. Mencegah Air Laut masuk ke Sungai atau Tanah

Mencegah Air Laut masuk ke Sungai atau Tanah

Hutan gambut yang berada di dekat pesisir berfungsi sebagai pencegah masuknya (intrusi) air laut ke sungai maupun tanah. Rawa akan menampung air laut saat pasang terjadi. Sehingga, air sungai dan air tanah di sekitarnya akan tetap tawar dan aman dikonsumsi oleh manusia.

3. Sebagai Habitat Berbagai Hewan dan Tumbuhan

Sebagai Habitat Berbagai Hewan dan Tumbuhan

Meskipun rawa memiliki kondisi tanah yang kurang subur dan kondisi air yang asam atau bahkan asin, namun tempat ini merupakan habitat bagi banyak hewan dan tumbuhan. Selain tanaman-tanaman yang telah disebutkan di atas, ada banyak hewan di hutan ini, contohnya monyet ekor panjang, beruk, harimau Sumatra, buaya, dan ikan.

4. Mencegah Banjir

Mencegah Banjir

Air hujan dan luapan sungai akan mengakibatkan banjir di berbagai area. Namun, hal tersebut tidak akan terjadi di area sekitar rawa, dan kalaupun terjadi, aliran banjir hanya berskala kecil. Hal ini karena air tersebut ditampung dan diserap oleh rawa. Sehingga, volume air yang mengalir tidak akan menjadi banjir.

5. Sebagai Sumber Cadangan Air

Sebagai Sumber Cadangan Air

Air dari sungai yang meluap, pasang laut, dan hujan akan ditampung oleh rawa berhutan ini. Di musim kemarau, air ini akan tetap menggenangi rawa. Sehingga, makhluk hidup di sekitarnya tetap dapat memperoleh pasokan air.

Persebaran Rawa

Pesebaran Rawa

Rawa yang berhutan ini banyak sekali tersebar di Kalimantan, Papua, dan Sumatra. Hutan ini juga dapat ditemukan di Nusa Tenggara, Jawa, maupun Sulawesi, namun dalam ukuran luas yang lebih kecil. Pada tahun 1990-an, luas rawa hutan mencapai ratusan juta hektar.

Namun kini, jumlah tersebut sudah sangat jauh berkurang. Luas rawa hutan saat ini hanya tersisa kurang lebih 20 hektar. Semua ini terjadi karena banyak rawa gambut maupun rawa air tawar yang diubah menjadi perkebunan kelapa sawit.

Pohon di rawa tersebut ditebang hingga bersih. Tanahnya dikeringkan dan diolah sehingga menjadi lebih subur. Langkah tersebut telah menimbulkan kerusakan ekosistem dan lingkungan. Akibatnya, kebakaran hutan terjadi dan banyak tanaman serta hewan yang menjadi langka.

Hutan rawa memang bukan hutan yang subur seperti jenis hutan lain yang ada di Indonesia. Meski demikian, keberadaannya wajib dijaga. Jika kerusakan rawa tidak dicegah dan diperbaiki, maka kerusakan dan kerugian yang lebih besar akan terjadi. Hal tersebut tentu akan membuat manusia tidak dapat hidup dengan baik dan nyaman di tempat tinggalnya.

Leave a Comment